5 Fakta Fintech Pinjaman Online Ilegal yang Perlu Anda Waspadai

Mewarnai perkembangan teknologi, Fintech pinjaman online hadir menawarkan keunggulan dan kemudahan dalam proses pinjam meminjam. Kehadiran ratusan bahkan ribuan praktik pinjol di Indonesia dalam 5 tahun terakhir sudah bukan rahasia lagi. Sayangnya dari sekian banyak layanan pinjaman online baru 100 an yang terdaftar dan berizin Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sisanya merupakan perusahaan ilegal yang tidak mengikuti peraturan dan regulasi Otoritas Jasa Keuangan.

Maraknya praktik dan kasus pinjaman online abal-abal tidak hanya merugikan debitur saja. Namun seolah membuat pihak yang berwewenang sempoyongan dalam menangkis serangan mereka. Berikut 5 fakta fintech pinjaman online ilegal yang perlu Anda Waspadai.

1. Tidak Terdaftar dan Berizin OJK

pinjaman online ilegal

Fakta pertama tentang fintech pinjaman online ilegal ialah tidak terdaftarnya merusahaan tersebut di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Selain itu, identitas dan alamat kantor juga tidak jelas. Fakta ini menjadi ciri utama praktik pinjol ilegal yang perlu Anda waspadai.

Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan telah mengeluarkan peraturan terkait kehadiran perusahaan penyelenggara pinjam meminjam berbasis teknologi informasi. Peraturan tersebut tertuang dalam NOMOR 77 /POJK.01/2016 yang memuat regulasi dan ketentuan penyelenggara pinjaman online.

Kehadiran OJK sebagai lembaga yang mengatur dan mengawasi sektor jasa keuangan telah jauh-jauh hari menangkis maraknya pinjaman online ilegal. Sayangnya hanya sebagian kecil dari praktik pijol kala itu yang antusias untuk mengikuti regulasi dan peraturan OJK. Sisanya memilih di jalur kiri sebagai perusahaan ilegal dan tidak bergegas mendaftarkan bisnis meraka di bawah awasan OJK.

Baca Juga: Pinjaman Uang Online Untuk Karyawan Tanpa Jaminan

2. Mudah Ngasih Pinjaman

pinjaman mudah di acc

Secara umum praktik pinjol ilegal mencari keuntungan dari jasa peminjaman uang. Inilah sebabnya mereka secara masif memberikan pinjaman uang dengan mudah. Bahkan bisa saja pinjol tersebut tidak memperhatikan riwayat kredit calon debitur.

Ada juga yang menawarkan pinjaman online tanpa NPWP, tanpa Slip Gaji, hingga tanpa foto KTP. Namun dibalik semua itu, debitur harus membayar mahal lantaran data dalam ponsel mereka bisa diintip oleh aplikasi pinjaman online ilegal.

Parahnya lagi, pinjaman online non OJK kerap mematok bunga dan biaya selangit. Berbeda dengan fintech pinjaman terdaftar yang saat ini mematok bunga maksimal sebesar 0,8% per hari. Biaya dan bunga pinjaman tinggi membuat banyak debitur merasa berat untuk mengembalikan pinjaman tersebut. Apalagi jika sudah telat bayar, dendanya bisa lebih besar dari bunga harian.

3. Penagihan Tidak Beretika

tagihan pinjol tak beretika

Kasus gagal bayar atau kredit macet tidak serta merta membuat pinjaman online ilegal menyerah. Mereka terus berupaya mengejar kewajiban debitur dengan cara-cara yang kurang beretika. Banyak sekali cerita debitur yang dikejar-kejar tim penagihan melalui berbagai cara.

SMS dan telepon seolah menjadi langkah awal yang mereka lakukan untuk menagih hutang. Jika cara tersebut belum berhasil, tidak menutup kemungkinan debitur akan ditagih melalui pesan ke kontak yang terdapat dalam ponsel. Maksudnya berbekal record data ponsel pinjol mengirimkan pesan ke nomor kontak yang terdapat dalam ponsel peminjam untuk membatu menagih kewajiban mereka.

Penagihan semacam ini kerap membuat debitur merasa malu lantaran banyak rekan yang mengetahui bahwa mereka gagal bayar pinjaman. Praktik penagihan pinjaman online ilegal yang tidak beretika kerap membuat debitur stres dan terancam. Inilah yang dituju oleh tim penagih agar peminjam bergegas membayar hutang.

4. Mati Satu Tumbuh Seribu

aplikasi pinjol mati satu tumbuh seribu

Sudah beberapa kali Satgas Waspada Investasi bersama pihak terkait melakukan pemblokiran terhadap aplikasi pinjaman online ilegal. Parahnya langkah ini sama sekali tidak membuat pelaku fintech abal-abal berkurang. Mati satu tumbuh seribu, peribahasa ini tepat menggambarkan kondisi fintech ilegal di Indonesia.

Bagaimana tidak, setiap ada peblikiran terhadap aplikasi pinjol dalam waktu tak lama muncul kembali aplikasi sejenis. Jika kita cermati lebih dalam, jumlah fintech pinjol ilegal yang berhasil diblokir selama 2018-2019 angkanya cukup mengejutkan.

Dilansir dari halaman prokal.co, sepanjang 2018 terdapat fintech pinjaman online ilegal sebanyak 404 entitas. Meski telah dilakukan pemblokiran, jumlah fintech abal-abal kembali meledak di sepanjang 2019 dan mencapai 826 entitas. Selama 2018 hingga 2019 ini Satgas Waspada Investasi telah menindak 1.230 entitas ilegal termasuk pemblokiran terhadap 143 fintech ilegal yang dilakukan pada 16 Juli 2019.

Baca Juga: Waspada Fintech Pinjaman Online Mengambil Data Aplikasi Lain

5. Masih Bisa Diakses dari Media Lain

pinjaman online ilegal bisa diakses lewat media lain

Dari pengamatan kreditur.net, penindakan fintech ilegal dilakukan dengan memblokir aplikasi di playstore atau situs website mereka. Fakta ini memang bisa kita lihat dari menghilangnya beberapa aplikasi pinjol di playstore. Namun tahukah Anda bahwa pemblokiran ini tidak serta merta memusnahkan praktik pinjaman online ilegal?

Banyak diantara aplikasi yang kena blokir kembali membuat aplikasi sejenis dan mengunggahnya kembali di playstore. Tak cukup sampai disini aplikasi yang telah diblokir juga kerap dipromosikan melalui media lain mulai dari sosmed hingga via SMS masal.

Tak berlebihan jika Ketua Satgas Waspada Investasi, Tongam L. Tobing menyarankan bagi masyarakat yang ingin mengajukan pinjaman online sebaiknya terlebih dahulu melihat daftar fintech yang telah terdaftar di OJK.

error: Content is protected !!