Hal Konyol yang Wajib Kamu Hindari saat Akses Pinjaman Online

Akses cepat pinjaman online yang ditawarkan Fintech memberikan kemudahan sekaligus risiko nyata bagi pengguna. Untuk itu jumlah pinjaman sesuai kebutuhan dan kemampuan bayar menjadi hal wajib yang perlu kamu pertimbangkan secara matang. Dengan pertimbangan tersebut setidaknya kamu bisa terhindar dari risiko gagal bayar.

Media pemberitaan kerap memuat kasus viral pinjaman online. Berita yang kerap viral biasanya bersumber dari kasus penagihan fintech ilegal, hingga kenakalan nasabah yang mengajukan pinjaman ke banyak fintech. Biar kamu terhindar dari risiko seperti di atas, ada baiknya menambah wawasan terhadap fasilitas pinjaman online yang saat ini mulai marak.

Inilah empat hal konyol yang wajib kamu hindari saat memanfaatkan akses pinjaman online untuk meminimalisir risiko.

akses pinjaman online 2020

Pinjam Buat Bayar Hutang

Meminjam uang buat bayar hutang atau istilah bekennya “gali lubang tutup lubang” menjadi fenomena yang kerap kita temukan. Jika langkah itu dilakukan secara tepat dan melalui pertimbangan matang sih gak masalah.

Tapi, jika kamu memanfaatkan Fintech pinjaman online buat bayar hutang tanpa pertimbangan matang bisa-bisa justru jadi boomerang di kemudian hari. Bagaimana tidak, pinjol yang memudahkan proses pinjam meminjam mematok suku bunga pinjaman terlampau tinggi.

Meski telah ada aturan yang dikeluarkan oleh Asosiasi Fintech Pembiayaan Indonesia (AFPI) terhadap batas atas suku bunga. Tetap saja bunga fintech jauh lebih besar dari sistem pinjaman konvensional. Dengan asumsi bunga harian paling tinggi, kamu bakal diwajibkan bayar 0,8% per hari dari jumlah pinjaman.

Jika kamu Cuma pinjam dengan durasi 7 hari sih mungkin masih terjangkau ya. Tapi kalau kamu mengambil durasi pinjaman selama 30 hari maka akumulasi bunganya mencapai 24%.

Baca Juga: 5 Pinjaman Tanpa Jaminan dan Kartu Kredit Proses Cepat

Mengajukan Pinjaman Ke Banyak Fintech

Hingga agustus 2019, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah merilis 127 perusahaan Fintech terdaftar dan berizin. Dari jumlah tersebut mayoritas menawarkan pinjaman online cepat cair melalui sistem operasional berbasis android (aplikasi).

Banyaknya penyelenggara pinjam meminjam online yang telah terdaftar dan diawasi OJK bukan berarti bisa kamu akses seenaknya.

Sekalipun perusahaan fintech hanya menawarkan plafon kecil kiranya kamu gak perlu mengajukan pinjaman ke banyak aplikasi untuk memperoleh dana besar.

Pasalnya semakin banyak kamu terima pinjaman semakin besar pula bunga yang harus kamu bayarkan. Itu artinya kamu harus kerja keras mengatur keuangan pribadi biar bisa membayar semua tagihan.

Semakin banyak pinjaman semakin besar pula risiko gagal bayar yang berujung pada denda keterlambatan.

Untuk meminimalisir rasio pembiayaan bermasalah ini, AFI berencana memberlakukan kegiatan tukar menukar data peminjam yang bakal berlaku awal 2020.

Pusat data terintegrasi ini ditujukan untuk mencegah satu nasabah meminjam ke banyak fintech. Jadi kemungkinan besar ke depan satu nasabah gak bakal bisa pinjam di lebih dari satu aplikasi pinjol sebelum pinjaman tersebut lunas.

Sengaja Tak Bayar Pinjaman

Mudahnya akses pinjaman online melalui fintech menjadi sebuah dinamika baru di tengah masyarakat Indonesia. Kurangnya kesadaran dan pengetahuan tak sedikit membuat masyarakat beranggapan bahwa sistem pinjam meminjam online ini tak beda dengan sosial media.

Dampaknya ada saja oknum yang sengaja mengakses pinjaman dengan tujuan tak akan membayarnya. Padahal perusahaan fintech memberikan persetujuan pinjaman berdasar data dan telah melalui verifikasi matang. Jadi jangan sekali-kali pinjam uang tanpa etika baik buat mengembalikannya.

Setiap perusahaan pembiayaan pasti juga memiliki tim penagihan entah itu dilakukan secara online maupun door to door.

Makanya jangan heran jika banyak peminjam merasa kaget ditagih pinjol sekalipun berupaya mengilangkan jejak dengan ganti nomor ponsel.

Baca Juga: 3 Alternatif Dana Talang Perorangan di Bandung

Memilih Fintech Ilegal

Salah satu hal konyol yang tak bisa ditawar adalah memilih fintech ilegal sebagai sumber pinjaman online. Banyaknya kasus pinjol yang bersumber dari kesalahan nasabah dalam memilih perusahaan pinjam meminjam mungkin sudah tak terhitung lagi jumlahnya. Mulai dari kasus penagihan hingga kasus pelecehan yang dilakukan oleh debt collector terhadap debitur.

Selain mematok bunga dan biaya lebih besar, sistem penagihan fintech ilegal juga kerap dilaporkan tak beretika. Inilah sebabnya kenapa OJK dan AFPI kerap mengingatkan kepada masyarakat untuk mengakses pinjaman online hanya pada fintech terdaftar dan berizin saja.

Di sisi lain, fintech ilegal disinyalir memiliki akses ke ponsel pengguna tanpa mempertimbangkan kemanan data nasabah. Selain risiko terkena biaya tinggi, kamu juga harus hati-hati terhadap kasus penyalahgunaan data nasabah.

error: Content is protected !!