Nggak Punya Hutang Tiba Tiba Ditagih Pinjaman Online, Waspada Penipuan!

Diposting pada

Roni sedikit kaget ketika membaca SMS masuk yang mengatasnamakan perusahaan pinjaman online menagih hutang padanya. Padahal selama ini ia tak pernah sekalipun mengakses apalagi mengajukan pinjaman melalui aplikasi pinjol. Usut punya usut ternyata ia telah menjadi korban penipuan dan pencurian data pribadi yang dimanfaatkan untuk pinjam uang.

Rupanya kehadiran Fintech tidak hanya bermanfaat besar bagi masyarakat, tapi juga mengandung risiko mengerikan di dalamnya. Ungkapan tersebut sangat sesuai dengan apa yang dialami Roni saat ini. Ia nggak merasa berhutang tiba-tiba ditagih pinjaman online. Tanpa disadari ternyata Roni telah menjadi korban pencurian dan penyalahgunaan data pribadi.

Pencurian Data Pribadi Berkedok Undian Berhadiah

gambar penipuan pinjaman online
Waspadai model baru penipuan pinjaman online dengan pencurian data pribadi

Sebagai pengguna android, Roni memang terbilang baru dan masih belajar bagaimana mengoperasikan smartphone dengan baik. Maklum, baginya smartphone menjadi barang mewah yang cukup sulit ia dapatkan.

Saat mengubungi saya, pria lajang tersebut merasa kaget karena ada SMS masuk yang memintanya untuk segera melunasi tagihan pembayaran hutang. Padahal selama ini ia tidak pernah merasa berhutang pada siapapun. Parahnya lagi, penagihan tersebut dilakukan berkali-kali bahkan dengan mencantumkan nama, alamat lengkap, hingga anggota keluarga yang masih satu KK dengannya.

Menanggapi hal tersebut, saya berusaha menenangkannya agar tidak panik dan bertindak apapun yang justru bakal semakin merugikan. Benar saja dugaan saya! Setelah menanyakan tentang perusahaan mana yang melakukan penagihan tersebut? Rupanya pinjol tersebut ilegal dan tidak terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Nggak punya Hutang Kok Ditagih Pinjaman Online?

Setelah banyak bertanya dan mendengarkan cerita Roni, ternyata tagihan pinjaman online yang ia dapati merupakan buntut dari penipuan berkedok undian barhadiah. Ia mengungkapkan sekitar sebulan sebelumnya pernah ada SMS yang mengabarkan bahwa dirinya mendapatkan undian berhadiah.

Sebagai syarat pengiriman hadiah, ia diminta untuk mengirimkan Foto KTP, Kartu Keluarga, dan Foto selfie sambil pegang KTP. Jika saja Roni punya wawasan tentang sistem pinjam meminjam online yang sedang booming-boomingnya saat ini pasti bakal curiga. Pasalnya dokumen dan foto yang diminta tersebut merupakan syarat umum untuk mengakses aplikasi pinjaman online.

Selain beberapa dokumen di atas, sebenarnya ia juga diminta untuk mengirimkan foto rekening tabungan. Untungnya ia tidak punya rekening tabungan di bank manapun. Tanpa disadari dokumen yang diminta penipu sebagai syarat pengiriman hadiah tersebut dimanfaatkan untuk mengajukan pinjaman online.

Baca Juga: Hal Konyol yang Harus Kamu Hindari Saat Akses Pinjaman Online

Kenapa Aplikasi Pinjaman Online Non OJK?

Ada beberapa alasan penipu memanfaatkan aplikasi pinjaman online non OJK alias perusahaan abal-abal aka bodong.

Pertama, akses pinjaman online yang terdaftar dan diawasi OJK terlalu sulit buat diakali. Tiap-tiap Fintech terdaftar OJK diharuskan mengikuti setiap peraturan dan regulasi yang telah ditetapkan. Hal ini termasuk dalam penggunaan aplikasi atau sistem pengajuan pinjaman sehingga penyalahgunaan data orang lain dapat diminimalisir.

Hampir bisa dipastikan bahwa fintech terdaftar dan berizin OJK hanya menerima rekening bank atas nama sesuai yang tertera dalam KTP calon peminjam. Jika rekening tersebut berbeda pastinya pengajuan pinjaman online bakal ditolak.

Inilah yang kemungkinan besar menjadi alasan penipu memanfaatkan pinjaman online non OJK alias ilegal. Dengan memanfaatkan kelemahan serta keterbatasan sistem pinjol abal-bal penipu menggunakan data orang lain buat mengajukan pinjaman.

Kedua, memanfaatkan kelemahan sistem pinjol non OJK sebagai sarana memperoleh uang. Kenapa saya bilang kelemahan? Karena pada umumnya pinjaman online terdaftar OJK bakal melakukan verifikasi data sebelum memberikan persetujuan kredit.

Namun kasus yang menimpa Roni ini justru menimbulkan banyak pertanyaan tentang sistem dan prosedur pemberian pinjaman online non OJK. Bagaimana tidak, pemberian pinjaman dilakukan tanpa ada verifikasi data ke nomor ponsel yang bersangkutan? Siapa yang nggak kaget kalau nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba ditagih pinjaman online lewat SMS?

Selain itu kenapa perusahaan pinjol bisa mengirimkan dana dengan nomor rekening orang lain? Kecuali si penipu juga memanfaatkan data korban untuk membuat rekening bank buat melancarkan aksinya.

Kasus di atas sebenarnya bukan hanya merugikan Roni saja. Karena korbannya sebenarnya ada dua yakni Roni sebagai korban penggunaan data pribadi dan perusahaan pinjol ilegal yang melepaskan uang pada penipu yang menggunakan data pribadi Roni.

Baca Juga: Aplikasi Pinjaman Tanpa Bunga Apakah Ada?

Bagaimana Solusinya?

Jika Anda merasa pernah atau sedang mengalami kasus yang sama. Ada beberapa solusi.

1. Cuekin Saja

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai pengatur dan pengawas perusahaan jasa keuangan sudah jauh-jauh hari meminta kepada penyelenggara pinjaman online untuk mendaftarkan diri ke OJK. Sayangnya praktif pinjol ilegal hingga saat ini masih saja dilakukan.

Jika saya ditagih pinjaman online padahal nggak merasa berhutang kenapa harus ditanggapi? Cuekin saja SMS dan telepon yang masuk dan tidak perlu ditanggapi. Toh yang nagih juga perusahaan bodong kok.

2. Ganti Nomor HP

Mendapati SMS dan telepon dari debt collector sudah barang pasti bikin ribet dan jengkel. Kalau memang cara penagihan pinjaman online sudah mengganggu nggak ada salahnya ganti nomor ponsel yang baru.

Perlu diingat bahwa pinjaman fintech abal-abal tersebut dimanfaatkan dan diakses orang lain dari HP mereka. Jadi secara tidak langsung tidak ada keterkaitan aplikasi pinjaman online dengan smartphone yang kita gunakan. Nggak perlu khawatir perusahaan itu bisa akses ponsel kita, toh kita juga nggap menginstall aplikasi mereka kok.

3. Lapor ke Otoritas Jasa Keuangan

Langkah selanjutnya kita bisa melakukan pengaduan ke OJK yang berwewenang mengawasi kegiatan bisnis jasa keuangan. Caranya bisa melalui sambungan telepon di nomor 1500 655 pada hari dan jam kerja.

Selain itu, kita sebenarnya juga bisa mengirimkan surat tertulis kepada Anggota Dewan Komisaris OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen. Surat tersebut bisa dikirimkan ke alamat Menara Radius Prawiro Lantai 2, Komplek Perkantoran Bank Indonesia, Jl. MH. Thamrin No. 2 Jakarta Pusat 10350.

4. Lapor ke Polisi

Tanda disaradi musibah yang menimpa Roni di atas sudah masuk ke ranah penipuan dan penyalahgunaan data pribadi. Jika kamu punya bukti yang sah dan kuat bisa saja lapor ke polisi. Penyakahgunaan data pribadi bisa dikenakan UU ITE nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan UU No 11 tahun 2008.

Baca Juga: 3 Solusi Terbaik Saat Terjerat Hutang Pinjaman Online

Simpulan

Perkembangan fintech di tanah air memiliki manfaat besar bagi ekonomi Indonesia. Bagaimana tidak, dengan memanfaatkan teknologi dan jaringan proses transaksi keuangan samakin mudah dan cepat dilakukan. Termasuk sistem pinjam meminjam online yang akhir-akhir ini sedang booming.

Namun perlu kita garis bawahi di balik segudang manfaatnya terdapat pula risiko besar di dalamnya. Jika tidak diantisipasi sejak dini risiko tersebut bakal jadi musibah yang sangat mengerikan.

Musibah yang menimpa Roni tentang kasus ditagih pinjaman online padahal nggap pinjam di atas. Sudah semestinya menjadi pelajaran bagi kita dalam memanfaatkan teknologi dan menjaga data pribadi. Hilangkan.